Select Page

Tim sukses seorang caleg dari salah satu partai merupakan faktor vital yang harus diperhatikan dengan seksama agar dapat memenangkan pekatnya persaingan di pemilu.

Pasalnya keberadaan mereka menjadi posisi kunci dan ujung tombak bagi seorang caleg dalam pemilihan umum, baik itu walikota/ bupati, gubernur hingga presiden bahkan yang skala kecil di desa maupun karang taruna.

Tanpa tim sukses yang solid dan kompak sangat mustahil bagi caleg pemilu untuk mendulang suara dari masyarakat. Nah, sebenarnya itulah hal yang sangat diperhatikan dalam memenangkan hasil pemilihan umum.

Salah satu contoh peranan penting tim pemenangan tersebut adalah penyampaian strategi komunikasi politik agar setiap visi maupun misi dari caleg bisa tersampaikan dengan baik ke masyarakat sehingga akhirnya mampu meraup suara yang signifikan.

Dalam proses sosialisasi tersebut tak heran jika hanya dilakukan oleh tim sukses yang solid lah maka bisa terlaksana dengan baik semua strategi yang telah disusun. Sebaliknya jika ada yang kontra produktif akan menghambat bahkan sangat membahayakan profil caleg yang ingin dimenangkan.

Karena itu penting sekali bagi seorang caleg untuk menyusun tim pemenangan nya agar bisa mendapatkan hasil maksimal bukan yang asal comot saja sehingga tidak efektif mencapai tujuan.

Nah, berikut ini ada beberapa pengalaman yang sekiranya bisa untuk jadi bahan pembelajaran bersama terkait pembentukan tim sukses yang tidak kontra produktif.

  1. Ada kejadian seorang tim sukses yang tidak memiliki ketegasan atau mungkin kepercayaan diri mengenai dia berada di pihak siapa, padahal jelas-jelas caleg partai tertentu merekrutnya menjadi tim sukses. Bahkan untuk menyatakan ia sendiri mendukung kandidat caleg yang bersangkutan tidak pernah. Malah bilang “Boleh milih siapa saja” Nah lho..
  2. Ada juga yang ketika punya waktu berkumpul bersama rekan tim lainnya tidak pernah menyampaikan pendapat, bahkan paling tidak bilang ada permintaan bantuan dari daerah x, pada hari H menjelang pemilu.
  3. Kasus lainnya juga ada yang memilih hanya duduk kongkow saja di rumah kandidat caleg dan hanya berkumpul dengan orang-orang yang kerap ditemuinya di tempat tersebut. Tidak kuat produktif serta loyo.
  4. Kontra produktif lainnya adalah tidak memiliki konsep marketing dalam menjalankan strategi politiknya. Dan kerap saya jumpai orang-orang tersebut masih saja dipakai oleh kandidat caleg. Yah, mumgkin mereka melihat dari sisi lain sehingga orang-orang tersebut masih didayagunakan.
  5. Tim sukses itu, terlihat semangat saat ketika dikasih uang jalan, atau uang operasional. Ada uang baru bergerak. Disuruh baru bergerak, seperti goong, yang baru berbunyi setelah ada yang memukul. Seperti inikah TIM SUKSES yang Anda harapkan? Pengorbanan waktu, uang, tenaga, dan pikiran, ternyata sia-sia. Terbuang begitu saja.
  6. Kemudian ciri lainnya adalah tim sukses yang tidak produktif hanya mau bergerak ketika sudah dikasih uang operasional. Ibarat gong, dipukul dulu baru berbunyi. Seringkali apa-apa langung minta ongkos di muka, tak jarang juga hanya asal bergerak agar tak terlihat pasif.
  7. Salah satu pembelajaran yang penting adalah harus memiliki konuikasi yang jelas, dalam artian memiliki inner circle (ring) yang jelas. Sehingga kandidat caleg tidak mudah dimanfaatkan orang-orang yang nebeng mengaku pendukung sehingga leluasa minta operasional tanpa SOP yang jelas.
  8. Nah, untuk yang terakhir ini sering banget terjadi ketika tim sukses di malam H-1 berkeliling untuk membagikan uang ke masyarakat dengan harapan sang kandidat bisa mendongkrak perolehan suaranya. Namun yang terjadi, beberapa hari setelah pemilu, tim sukses tersebut ketahuan memborong furnitur rumah.

Tak lama ada bereda kabar kalo semua amplop yang direncanakan tidak dibagikan sesuai strategi yang telah disepakati, malah amplop diganti dan atau isi amplop dikurangi.

Hal tersebut terlihat dari hasil perhitungan, suara yang didapatkan di TPS potesial dimana uang sudah dibagi-bagi ternyata meleset dari target yang sudah digadang-gadang. Semisal harusnya ratusan suara, eh.. malah hanya tembus belasan suara saja.

KEMANA ya uang tersebut??

Atau kemana para masyarakat tersebut memberikan suaranya?

Kedua pertanyaan tersebut sebenarnya hanya memiliki 2 alternatif jawaban:

Pertama adalah uang tersebut tidak dibagikan, dan kemungkinan kedua uang yang diberikan terlampau kecil dibandingkan dengan pemebrian dari kandidat caleg lainnya sehingga membuat banyak warga yang mencoblos suara ke pemberi uang terbesar.

Apapu jawabannya apakah mau seperti itu Tim Sukses yang dimiliki? Yang berujung pada pengorbanan uang, tenaga, waktu dan pikiran yang sia-sia. Kalo saya sih ogah.