Select Page

Sudah pernah mengamati tentang kejadidan dari beberapa pemilu yang sudah berlangsung di negara ini? Karena jika diamati secara seksama ada kejadian-kejadian menarik yang perlu dibahas.

Sekarang, seandainya, Anda berada di posisi calon legislatif tentunya sudah memiliki ancang-ancang strategi yang akan dilakukan hingga peta politik yang memperkirakan deretan daftar pemilih yang potensial mencoblos nama Anda di bilik pencoblosan.

Namun, sudahkah menyadari juga jika orang-orang yang sudah dipetakan tadi, termasuk mungkin orang-orang dekat juga belum tentu akan memberikan hak suaranya kepada Anda.

Hal yang menarik bukan, nah di artikel ini saya berusaha menyampaikan secara ringkas mengapa hal tersebut bisa terjadi, kemudian motivasi dan alasan apa yang melandasi kejadian seperti itu.

Dimulai dari kondisi mungkin kurangnya kepiawaian Anda sebagai kandidat caleg dalam menyusun dan mengaplikasikan strategi untuk pemenangan di pemilu.

Sebab dalam perhelatan pemilu yang beberapa kali sudah dilewati bersama saya mengamati kalo memiliki uang banyak tidak menjamin kemenangan di pemilu.

Pola pemilu saat ini saya lebih nyaman bilang sebagai persaingan total bagi caleg itu sendiri, baik internal maupun eksternal partai.

Yang dimaksud faktor internal adalah persaingan dengan caleg lainnya yang berada di partai sama. Adapun untuk faktor eksternal tentu saja persaingan dengan kandidat legilsatif dari paratai lainnya.

Nah, ini yang menarik, seperti sudah saya katakan sebelumnya bahakan orang-orang di dekat Anda pun bakal memberikan suaranya buat Anda karena adanya dua faktor persaingan diatas. Dan ini bener-bener loh kejadian nyata yang terjadi.

Gimana tidak, dengan sistem pemilu seperti itu membuat seorang caleg pun harus bersaing terutama dengan kalangan partai sendiri, yang mana dari pihak partai pun tidak menjamin caleg mana yang pasti meraih kemenangan.

Dari pengamatan saya selama ini, paling berat sebenarnya yang dari faktor internal dimana Anda harus bersaing dengan teman-teman separtai dan menyingkirkan mereka agar mendulang suara paling banyak.

Dalam hal ini tidak ada yang bisa membantu selain Anda sendiri dan tim sukses yang Anda bentuk.

Taruhlah contoh, secara teori pihak partai mengatakan bahwa mereka akan bersikap netral dalam persaingan para kader caleg partainya. Namun kenyataan nya hal tersebut hanyalah teori.

Sejauh yang saya alami, jangan harap ada kata netral, terutama ketika Anda tidak memiliki power di struktur partai, kondisi yang di lapangan nantinya bisa bercerita lain.

Selanjutnya mengenai persaingan dari faktor eksternal tidak perlu banyak saya bahas detail karena memang merupakan sebuah kewajaran bersaing dengan pihak lainnya.

Mungkin terbersit dalam pikiran Anda kalau strategi membagikan uang menjelang hari H pemilu masih sangat efektif. Namun saya mengajak untuk berpikir ulang, karena ini merupakan asumsi yang sangat keliru.

Pasalnya sangat lumrah saat ini banyak kandidat caleg yang melakukan praktek tersebut, walaupun kita ketahui bersama strategi money politik ini bukanlah cara yang benar.

Sekrang coba bayangkan, ketika setiap calon pemilih menerima katakanlah 3-5 amplop selama menjelang pelaksanaan pemilu. Kenyataanya yang bisa dia pilih kan hanya satu orang bukan?

Lantas, siapa yang bakal dicoblos? Apakah Anda? Belum tentu. Bisa jadi orang tersebut akan memberikan hak suaranya kepada yang memberikan isi amplop paling besar.

Bahkan bisa juga yang gak kasih amplop sama sekali akan menyoblos salah seorang caleg karena ada kedekatan personal. Nah, kira-kira seperti itulah yang terjadi di lapangan dari pengalaman saya selama ini.

Yang jelas, sebagai kandidat calon dari parpol sekaligus peserta pemilu Anda akan dihadapkan apda sebuah skema persaingan total yang lebih ke arah individu. Siapapun caleg dengan strategi dan langkah terobosan yang tepat memiliki peluang besar untuk menang. Selamat pesta demokrasi!